Kebiasaan Salah Pengendara Mobil Menggunakan Lampu Hazard yang Membahayakan

0
808
Kasat Lantas Polres Bengkulu Utara, AKP Perdhana Mahardika, S.Ik, MH

Merakjat.com – Kebiasaan umum pengendara masih salah kaprah dalam memahami dan menggunakan indikator lampu hazard pada kendaraan roda 4.

Lampu hazard merupakan fitur standar pada kendaraan roda 4. Bahkan tidak sedikit saat ini lampu hazard juga dimiliki oleh kendaraan roda 2.

Namun, tidak sedikit pula para pengendara masih salah kaprah dalam menggunakan fitur tersebut. Dimana masih banyak pengemudi mengaktifkan fitur tersebut saat kendaraan akan berjalan lurus di suatu persimpangan.

Perlakuan ini juga marak terjadi terhadap pengemudi roda 2 yang yang telah dilengkapi fitur tersebut.

Orang yang menyalakan lampu hazard ini dinyalakan pada persimpangan, baik dengan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) maupun tanpa lampu merah. Mereka beranggapan bahwa kalau ingin berjalan lurus, kedua lampu sein harus dinyalakan.

Kasat Lantas Polres Bengkulu Utara, AKP Perdhana Mahardika, S.Ik, MH, mengatakan bahwa budaya atau kebiasaan menyalakan lampu hazard pada saat lurus di persimpangan itu tidak jelas dasarnya dari mana.

Kebiasaan tersebut, justru dapat membahayakan pengendara. Sebab saat menyalakan lampu hazard di persimpangan akan menyebabkan kesalahan komunikasi antar pengendara lainnya.

Pengendara lain tidak dapat membaca arah kendaraan akan bergerak ke arah mana, dan justru dapat menyebabkan terjadinya tabrakan.

“Perlu diketahui, pemahaman keselamatan berkendara itu meliputi standar operasional yang benar, bukan omongan dan pendapat sendiri atau orang lain. Hazard yang digunakan untuk berjalan lurus di persimpangan ini kan tidak jelas dari mana asal-usulnya,” jelas AKP Perdhana.

Lanjut ia mengatakan, lampu hazard hanya digunakan pada keadaan darurat seperti mogok atau berhenti di pinggir jalan.

“Kalau di perempatan itu tempat bertemunya antar pengendara dari arah yang berbeda, jadi komunikasi yang digunakan hanya petunjuk arah sein ke kanan atau ke kiri. Buka  lampu hazard saat akan berjalan lurus,” tambah Perdhana.

Berdasarkan UU nomor 22 tahun 2009 tentang LLAJ, pasal 121 ayat 1 yang menyatakan, ”Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di jalan”.

Selain itu, terdapat kondisi dimana lampu hazard juga seharusnya tidak dinyalakan. Namun hal ini masih banyak terdapat pengendara yang melakukannya.

Seperti menyalakan lampu hazard dalam cuaca hujan lebat atau berkabut, kondisi ini justru akan membuat bingung pengemudi di belakang. Karena saat lampu hazard dinyalakan, lampu sein tidak berfungsi. Pengemudi cukup berhati-hati saja saat hujan atau dengan menghidupkan lampu utama.

“Jadi ikuti standar operasional berkendara, bukan dari asumsi-asumsi yang tidak jelas asal-usulnya. Kita sudah ada UU LLAJ sebagai panduan hukum dalam berkendara. Jadi berpakulah terhadap itu, bukan pendapat yang dibuat-buat sendiri, yang justru malah membahayakan,” tandas AKP Perdhana.[redaksi]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini