Menguak Tabir Dugaan Kasus Skandal Oknum Ustad di Bengkulu Utara

0
1590
Foto Ilustrasi

BENGKULU UTARA, Merakjat.comKasus dugaan skandal persetubuhan yang diduga dilakukan oleh oknum ustad berinisial AS yang beralamat di Desa Kertapati, Kecamatan Air Besi, Kabupaten Bengkulu Utara, semakin menyita perhatian masyarakat.

Bermula dari ustad AS yang melaporkan seorang ayah dan anak yakni CDK (24) dan UC (66) Warga Desa Kalai Duai, Kecamatan Arma Jaya, yang dituduh telah melakukan pemerasan terhadap dirinya ke Polres Bengkulu Utara.

Ayah dan anak ini ditetapkan tersangka dan dikenakan pasal 365 ayat (2) KUH Pidana dengan ancaman penjara maksimal 12 tahun.

Berdasarkan catatan kepolisian dan keterangan pelapor yakni ustad AS, kejadian pemerasan terjadi pada tanggal 27 Februari 2021, di Desa Kertapati.

Adapun modus operandi yang dipaparkan dalam catatan kepolisian tersebut, yakni pada tanggal kejadian sekira pukul 02.00 Wib di dalam mobil pinjaman AS, telah terjadi tindak pidana pencurian dengan kekerasan atau pemerasan. 

CDK dan UC mengancam AS dengan akan menyebarluaskan perbuatan AS yang mengajak CDK hingga larut malam.

CDK dan UC kemudian disebut meminta uang sebesar 30 juta rupiah kepada AS, serta menahan handphone AS dibawa oleh CDK sebagai jaminan sebelum uang tersebut diserahkan.

Ayah dan anak ini pun akhirnya ditangkap pada hari jumat, (09/04/2021), dengan barang bukti kotak handphone milik ustad AS.

CDK Sebut Ustad AS Putar Balikan Fakta.

Sejak penetapan status sebagai tersangka, CDK yang menjadi tahanan Polres tersebut dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Argamakmur.

Ketika ditemui kuasa hukumnya Julisti Anwar, SH di Lapas, CDK menyebut bahwa ustad AS telah memutar balikan fakta dengan melaporkan dirinya sebagai tersangka pemerasan.

Berdasarkan penjelasan CDK, bahwa ia sempat menerima perlakuan tidak senonoh oleh AS. Bahkan, AS pernah membawa CDK ke kos-kosan milik teman sang ustad yang berada di Kota Bengkulu dengan kondisi tidak sadarkan diri, setelah diberi minuman oleh AS.

Selama tiga hari CDK diduga disekap di kos-kosan milik teman AS tersebut. Setelah itu, AS kemudian membawa CDK kembali ke Bengkulu Utara, tepatnya AS mendiamkan CDK di Hotel Bundaran, Kota Arga Makmur.

Atas hal ini, kuasa hukum CDK menilai bahwa hal ini merupakan suatu ketidak adilan. 

“Kami menilai CDK dalam hal ini sebagai korban bujuk rayu pelaku AS, bahkan sempat mengajak korban untuk menikah secara siri dan melarangnya keluar dari kamar hotel. Pengakuan CDK juga, bahwa oknum Ustad  sudah melakukan hubungan badan terhadap nya berapa kali ditempat yang berbeda. Namun CDK tidak mengakuinya pada saat proses BAP di polres, karena dibawah tekanan saat diinterogasi bersama orang tuanya. Dia takut, dia tidak mengakui fakta yang sebenarnya terhadap penyidik, bahwa sudah berhubungan badan terhadap oknum Ustad,” kata Julisti Anwar, S.H, dilansir dari media online kilasbengkulu.com.

Ustad AS Somasi Media yang Memberitakan Dirinya

Setelah rentetan berita yang diterbitkan oleh awak media, ustad AS melalui kuasa hukumnya Nuroni, melakukan somasi terhadap 2 media online, yakni kilasbengkulu.com dan penarakyat.id.

Hal ini dibuktikan dengan adanya kiriman surat berperihal somasi ke kantor media kilasbengkulu.com, dengan nomor Nomor :  012/KH_NRP/Agm/IV/2021, tertanggal (29/04).

Dalam surat tersebut, disampaikan keberatan atas pemberitaan kliennya sejak tanggal 21, 22, 23, 26 dan 28 April 2021. Yang dinilai selalu menyudut, melemahkan hingga membunuh karakter kliennya. Berita – Berita tersebut telah merugikan kliennya.

Surat ini pun sudah dibalas oleh pimpinan redaksi kilasbengkulu.com, Edi Yanto, dan mengantarkan surat balasan tersebut langsung ke kediaman kuasa hukum AS tersebut.

Edi Yanto menilai bahwa apa yang dilakukan oleh AS melalui kuasa hukumnya tersebut merupakan suatu tindakan yang kurang tepat. Dimana justru malah terkesan ingin melakukan pembungkaman atau menghalangi kerja pers dan awak media.

“Setelah kami pelajari isi somasi dari kuasa hukum oknum ustad AS, kami menilai ada dugaan berupaya mencoba untuk Mendiskreditkan produk pihak media atau jurnalistik. Mengingat, produk jurnalistik yang diterbitkan kedua media ini ditandaskan sudah sesuai dengan kaidah Jurnalistik dengan merujuk Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999,” ujar Edi Yanto, (30/04) lalu.

Ustad AS Tuding Kapolsek Fitnah Dirinya

Ustad AS menuding Kapolsek Air Besi, Iptu Aljum telah memfitnah dirinya dengan memberikan keterangan ataupun statement kepada awak media, bahwa dirinya telah melakukan hubungan badan dengan CDK.

Hal ini pun memantik reaksi dari Iptu Aljum, ia sangat menyayangkan sosok yang dipandang sebagai ustad tersebut malah dinilai berbohong dan kembali memutar balikan fakta.

Iptu Aljum menjelaskan, dimana pada awal sebelum kejadian AS melapor UC dan CDK ke Polres Bengulu Utara, kedua belah pihak sempat mendatangi kediamannya untuk membantu menengahi permasalahan antar keduanya.

Dalam mediasi, CDK mengakui kepada Iptu Aljum bahwa AS telah menyetubuhi dirinya dengan kondisi tidak sadarkan diri karena diberikan minuman oleh AS.

Kemudian, AS saat diminta memberikan keterangan yang jujur, AS juga mengakui melakukannya, namun dilakukan dengan dasar suka sama suka.

“Ini bulan ramadhan, ustad AS jangan suka berbohong. Awalnya mereka datang sendiri kepada saya untuk meminta bantuan menegahkan permasalahan kedua belah pihak,” kata Iptu Aljum dikutip dari kilasbengkulu.com.

Kuasa Hukum CDK Upayakan Lapor Balik

Sementara itu, Kuasa Hukum CDK, Julisti Anwar, SH sedang mengupayakan untuk melapor balik sang ustad AS.

Saat ini, pihaknya sedang melakukan upaya pengumpulan informasi dan bukti-bukti.

Namun demikian, upaya lapor balik masih terkendala dengan kondisi CDK yang masih tertekan akibat kasus yang menimpa dirinya.

“Kami menunggu hasil pendampingan dari psikiater tentang kesehatan psikis CDK. Bukti yang lain insya Allah sudah cukup, apalagi sudah ada upaya perdamaian yang artinya kalo mau damai  itu sudah bentuk pengakuan dari oknum ustad tersebut,” tandas Julisti.[redaksi]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini